Proses Kreatif | Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar

 Oleh Encep Abdullah

  

P

ada kalimat pertama ini, saya harus katakan bahwa penulis yang meminta endors dan pengantar buku adalah kaum lemah. Apakah Saudara termasuk ke dalam golongan itu? Tidak usah risau, saya penulis, saya ada pada bagian itu.


Jujur, saya adalah penulis yang tidak bisa bikin buku tanpa endors dan kata pengantar
dari orang lain. Kalau Saudara baca buku-buku saya, Saudara pasti akan menemukan kata-kata manis dari para sastrawan senior atau akademisi atau para penulis kelas teri. Endors mereka tak ada yang buruk, ya itu pasti, namanya endors, masa iya merusak buku yang dipasarkan.

Sependek pengalaman saya meminta endors kepada kawan-kawan, rasanya cukup menggelikan. Pertama-tama, saya harus mendata dan mencatat siapa saja yang harus mengisi endors. Tentu, orang-orang itu harus sesuai dengan kapasitasnya. Saya tidak mungkin minta endors kepada Mamang Cilok atau Abang Becak untuk buku cerpen saya atau minta endors kepada preman atau tukang gali kubur untuk endors buku puisi saya. Itu sih maksa namanya, atau mungkin tidak punya kenalan lain?

Setelah saya data dan catat nama-nama yang punya kredibilitas itu, saya bergerilya menuju kediaman WA atau surel atau Fesbuk atau IG mereka. Sambil mikir keras, apakah orang ini pantas, apakah orang ini perlu, apalah orang ini bisa, apakah orang ini mau. Nah, yang terakhir ini yang selalu saya pikirkan. Dan, dada saya selalu berdebar saat mengirimkan permintaan endors atau kata pengantar itu. Kenapa, karena saya harus terima risiko dengan jawaban-jawaban memukau mereka. Belum kenal kok minta-minta endors, baru kenal kok minta-minta gituan, bahkan orang yang saya “benci” pun saya mintai endors. Barangkali dengan cara begitu, hati saya bisa berdamai dengannya kembali.

Oke, pekerjaan minta endors dan kata pengantar ini pertama kali saya lakukan pada 2014 untuk buku puisi pertama saya Tuhan dalam Tahun (Kubah Budaya, 2014). Saya kirim ke beberapa nama yang saya kenal waktu itu. Sebagian besar namanya cukup masyhur di media, sebagian lagi kini sudah tak terdengar lagi kiprahnya. Saya minta endors tentu agar peminat buku saya banyak. Lah, apa pengaruhnya, buku saja cuma cetak 25 biji. Itu pun sebagiannya dibagikan gratis. Cuma laku beberapa biji. Memang, saat itu, nama saya belum terlalu dikenal (meskipun sekarang juga masih). Namun, dari buku pertama itulah saya memperkenalkan diri kepada umat. Dan alhamdulillah, saya tetap gaib.

Mas Bro, ada satu sastrawan senior yang menolak menulis endors buku puisi saya itu. Ia bilang bahwa ia sudah tidak mau memberi endors sejak beberapa tahun belakangan. Ia bilang “Jangankan Ente Cep, penulis sekelas bla bla bla saja minta ke saya tidak saya kasih.”Saya menerimanya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan dan keridaan.

Selanjutnya, untuk buku cerpen saya Lelaki Ompol, saya meminta kata pengantar kepada sastrawan termasyhur abad ini, inisialnya M. Saya kirim karya ke surelnya. Entah, saya lupa darimana saya dapatkan surelnya. Bahkan, saya SMS waktu itu (rasanya sih iya). Tapi, ia tidak menjawab apa-apa. Tidak membalas apa-apa. Padahal dalam surel itu pun saya sebutkan jumlah nominal bayaran saya kepadanya. Mungkin nominalnya terlalu kecil. Haha … asem!

Suatu hari, Tuhan mempertemukan saya dengan manusia ini. Kala itu, saya panitia acara dan saya yang diberi mandat menjemputnya di suatu tempat. Saya pun satu mobil dengannya untuk kali pertama. Di dalam mobil itu, saya dag dig dug sebenarnya untuk memperkenalkan diri menyebut nama. Khawatir ia ingat dengan saya dari pesan surel itu. Akhirnya, saya membuka diri bahwa saya yang mengirim karya ke surelnya itu. Ternyata, ia tidak kaget, biasa saja. Akhirnya ia menjawab, “Oh, itu kamu. Oh, iya, sebenernya cerita kamu itu tidak buruk-buruk amat sih. Tapi, maaf, saya sudah malas memberi kata pengantar kepada rekan penulis. Banyak penulis yang tidak jelas memberikan haknya kepada saya. Setelah buku itu cetak, apa kelanjutannnya, bagaimana dengan saya (honor maksudnya).”

Tak peduli apa jawaban Om M. Saya bangga dengan diri saya bahwa cerita saya tidak buruk-buruk amat. Dari situ saya merasa saya punya meluang menulis lebih bagus lagi. Nyatanya, sampai saat ini cerita-cerita saya pun masih buruk juga. Kampret!

Pekerjaan meminta endors dan kata pengantar kian waktu kian menegangkan. Oke, anggap saja saya sudah dikenal banyak orang karena tulisan-tulisan saya yang mejeng di media. Maka, untuk buku selanjutnya, tentu saya minta orang-orang besar yang kayaknya sudah tidak diragukan lagi namanya. Atau, minimal punya pengaruh dan andil besar untuk penjualan buku-buku saya—walaupun tetap saja buku saya tidak laris-laris amat. Anjim!

Sebagiannya saya pilih dosen. Alhamdulillah mereka menyambut baik buku saya. Padahal jujur saya malah bingung dengan penerimaan mereka. Maksud saya, saya bakal bayar berapa. Akhirnya saya tidak memikirkan itu, bahkan saya berniat tidak mau membayarnya. Bangsat dan durhaka sekali saya ini. Bukan, bukan bermaksud begitu. Saya merasa kalau saya bayar, saya seperti menghina karena bayaran saya tidak sebanding. Dan beliau saya kasih beberapa buku itu. Saya kaget saat beliau berkata, “Tidak usah banyak-bayak Cep, satu saja cukup buat saya.” Saya tahu, barangkali maksudnya adalah, biarkan yang lainnya dijual saja buat kebutuhan hidup. Masyaallah. Sehat selalu buatmu, Pak.

Mas Bro, meminta endors dan kata pengantar itu sungguh menyebalkan. Saya harus menunggu kepastian mereka. Apalagi yang tidak jelas kapan akan memberi, sedangkan buku sudah siap terbit.Kadang saya rela menunda penerbitan, menunggu endorsnya, karena namanya sangat berpengaruh. Gila bener ya saya ini sampai segitunya mencari endors. Mungkin suatu saat saya akan bikin buku kumpulan endors buku-buku Encep Abdullah. Busyet!

Oh, iya, ada yang lucu juga sebenarnya. Waktu itu, saya minta kata pengantar dari penulis ternama, ia bilang siap, tapi nyatanya tak siap. Saya sudah keder, sungguh. Waktu itu, ada kawan yang menulis endors panjang sekali. Kayaknya cocok juga buat kata pengantar. Akhirnya, saya minta izin kepadanya kalau endorsnya itu jadi kata pengantar. Ia setuju. Alhamdulillah. Ada saja jalan itu ya. Ini pengalaman yang anjim sih menurut saya. Jangan Saudara tiru, ya! Apalagi endorsnya jelek.

Alasan-alasan klasik teman yang menolak memberi endors adalah karena mereka sedang sibuk. Ada yang sedang sibuk menggarap novel. Ada yang sedang sibuk mikirin utang. Ada yang sedang sibuk mencari kesibukan. Padahal saya sudah kasih opsi baca sebagian saja tidak usah keseluruhan karya saya. Karya-karya itu toh sudah mewakili. Dan, saya pun tidak minta kata-kata yang panjang-panjang. Satu kata pun boleh. Wong kayak di buku-buku terbitan penerbit tetangga saja tertulis “Keren!”,“Dahsyat!”, cuma satu kata. Kata itu adalah endors dari penulis beken atau artis beken. Wong edan kan? Nah itu saya mau tiru. Ternyata tak semudah itu. Karena, saya ini memang bangsat dan keparat, para endors dan tukang kata pengantar itu tidak saya kasih honor, cuma saya kasih buku doang. Makanya, kalau kau diminta sama saya memberi endors, tolong jangan mau! Eh, ada juga loh yang lebih lucu, ada kawan yang menolak menulis endors karena ia benci dengan nama tokoh dalam cerita saya itu. Etdah!

Lagian, buat apa sih buku saya diantar-antar, diendors-endors segala. Toh, tetap yang menjaga marwah diri saya adalah isi tulisan itu sendiri, karya itu sendiri. Endors dan kata pengantar dari orang lain bagi saya hanyalah pemanis, hanyalah pengisi kekosongan belakang sampul buku. Toh, tanpa endors dan kata pengantar, buku itu tetap dinikmati juga kan?

Hm … saat ini, saya malah kepikiran sesuatu. Suatu hari, mungkinkah saya bikin buku tanpa endors, tanpa kata pengantar, bahkan tanpa daftar isi, atau sekalian tanpa isi. Saya kasih judul buku itu: “KOSONG”!

Sekian dan terima kasih.

Pontang, 27 Januari 2021 (09.18 WIB)


__

Tambahan:

Encep Abdullah, menerima pesanan endors tanpa honor dan kata pengantar dengan honor.

Komentar

Posting Komentar