Esai | Berteduh | Pikiran Rakyat, 15 Feb 2015


Oleh Encep Abdullah

Musim hujan masih terus berlanjut—entah sampai kapan. Akibatnya, di beberapa pelosok negeri, banjir semakin merajalela menjajahi daratan. Lalu, hendak ke mana para korban berteduh kala rumah mereka terendam?

Berbicara soal teduh dan berteduh, pada suatu kesempatan di ruang diskusi tanpa batas, saya sempat disodori sebuah pertanyaan oleh seorang kawan—yang barangkali sudah lama ia pendam dalam laci pikirannya.

“Kenapa, ya, orang-orang lebih sering menggunakan kata berteduh saat hujan? Padahal, kalau menurut saya, berteduh itu bukan menghindari hujan, melainkan menghindari panas (terik). Bagaimana menurutmu, Kawan?” ujarnya.

Saya hanya diam karena di kepala saya tak ada referensi jawaban. Dalam hati kecil, saya pun mengiyakan pernyataannya, tetapi memilih mendiamkan pertanyaannya. Iseng-iseng, sepulang dari percakapan itu, pertanyaan tersebut terngiang kembali. Akhirnya, saya membuka KBBI dan menemukan makna teduh sebagai berikut:

  1. ‘reda’ (tentang angin ribut, ombak); ‘berhenti’ (tentang hujan): mereka bersenda gurau sambil menanti hujan —;

  2. ‘terlindung atau tidak kena panas matahari’; ‘lindap’: setelah bermain-main, anak-anak beristirahat di tempat yang —; mereka berhenti di tepi jalan yang —;

  3. ‘tidak turun hujan’ (tentang hari); ‘redup atau tidak memancarkan sinar yang terik’ (tentang matahari): sudah beberapa hari ini matahari —;

  4. ki ‘tenang’; ‘aman’: Lautan —, Samudra Pasifik.

Sementara itu, berteduh bermakna:

  1. ‘berlindung’ (supaya jangan kehujanan atau kepanasan); ‘bernaung’: aku ~ di bawah pohon;

  2. ‘dilindungi dari’;

  3. ‘menumpang tinggal’; ‘diam’: aku gembira telah memberi tempat ~ di rumahku kepada anak yatim itu;
    ~ di bawah betung, pb ‘mendapat pertolongan yang tidak mencukupi’.

Pada penjelasan di atas, menurut saya ada pertentangan makna sebelum dan sesudah kata teduh diberi prefiks ber-. Memang bisa saja berbeda, tetapi mestinya maknanya tidak jauh dari kata dasarnya. Makna teduh tidak secara langsung menekankan ‘keterhindaran dari hujan’, melainkan lebih kepada ‘keterhindaran dari panas matahari’. Sementara itu, makna berteduh justru mencakup ‘keterhindaran dari panas atau hujan’, yakni ‘berlindung supaya jangan kehujanan atau kepanasan’.

Kalau digolongkan seperti jenis kelamin, barangkali kata teduh ini berjenis ganda. Seandainya ia manusia, mungkin ia akan protes: mengapa kelaminnya didobelkan—panas dan hujan?

Dalam hal ini, saya jadi bingung sendiri. Haruskah saya berkiblat pada pernyataan kawan saya atau pada pernyataan kamus?

Baiklah, agar lebih jelas, mari kita ungkit persoalan lain. Iseng-iseng saya mencari kata teduh di internet, baik dalam gambar, berita, maupun artikel. Ternyata, kata teduh dan berteduh memang lebih sering dipakai saat kondisi hujan tiba (silakan Anda cari sendiri di Google dengan kata kunci “berteduh dari hujan”).

Ketika saya mencoba kata kunci lain, misalnya “berteduh dari panas”, yang muncul justru lirik lagu Siti Nurhaliza, “Panas Berteduh Gelap Bersuluh.” Ah, jika Anda ingin menemukan berita tentang teduh yang berkaitan dengan panas, barangkali Anda harus mengklik urutan kesekian dari mesin pencari tersebut. Betapa malangnya nasib teduh (dari panas) yang begitu susah saya temukan di dunia maya. Padahal, dalam kamus, pengertiannya lebih ditekankan pada keadaan terlindung dari panas (dalam hal ini denotatif).

Dalam hati kecil, saya kembali berdebat. Bukankah teduh juga dapat berarti ‘tenang; aman’? Sesuai dengan orang yang berteduh saat hujan: mereka bisa aman dan tenang dari air dan dingin. Bukankah begitu?

Namun, hati kecil saya tiba-tiba menjawab yang lain. Berdasarkan pengalaman, justru saya sering merasa resah dan gelisah ketika berteduh saat hujan. Saya tidak merasa nyaman dalam kondisi demikian. Jika saya berteduh—apalagi terlalu lama—saya bisa dimarahi atasan karena terlambat bekerja, bahkan bisa sampai tidak masuk kerja. Apalagi jika saya tidak membawa jas hujan, semakin resah dan gusar perasaan saya—barangkali juga Anda. Apakah berteduh dalam keadaan demikian masih bisa disebut ‘aman’ dan ‘tenang’?

Saya rasa, teduh yang dimaknai ‘berlindung dari hujan’ masih terasa mengganjal. Berbeda dengan teduh yang berarti ‘berlindung dari panas matahari’ atau dalam Tesaurus Bahasa Indonesia yang bersinonim dengan ‘adem’, ‘lindap’, ‘sejuk’, ‘mendung’, ‘redup’; maknanya terasa lebih sesuai dengan keadaan—setidaknya menurut saya.

Dalam tesaurus tersebut, saya semakin bingung ketika menemukan kata hujan sebagai antonim dari teduh. Lebih-lebih ketika saya menjumpai peribahasa berikut dalam kamus dan buku peribahasa: “Hujan tempat berteduh, panas tempat berlindung.” Ah, saya semakin limbung. Saya harus berteduh ke mana?

Mohon pertolongan Anda.

Komentar