Cerpen Feby Indirani | Dia Bertanya tentang Tuhan

 

Dia Bertanya tentang Tuhan


Anak lelaki itu bernama Gibran.

Usianya sembilan tahun lebih sepekan.

Suatu hari, dia mulai bertanya tentang Tuhan.

“Bu, siapakah Tuhan?”

Ibunya terdiam sejenak sebelum menjawab,
“Tuhan adalah yang menciptakan segalanya. Kamu, Ibu, semuanya di sekelilingmu.”

“Kenapa Ibu melihat ke atas? Apakah Dia ada di awan?”

“Ya, dan juga ada di mana-mana ...”

“Jadi, ketika hujan turun, apakah Tuhan sedang pipis?”

“Tidak, Sayang. Tuhan tidak perlu pipis. Dia juga tidak perlu makan, tidak perlu minum, tidak perlu tidur.”

“Apa Tuhan mandi?”

“Tidak, Tuhan tidak perlu mandi ...”

“Tapi kata Ibu, kalau tidak mandi nanti bau.”

“Ya, tapi Tuhan tidak bau.”

“Jadi, Tuhan tetap wangi meski tidak pernah mandi?”

“Uhmm ... iya, wangi.”

“Seperti bunga?”

“Tuhan yang menciptakan bunga, Sayang. Dia lebih harum daripada bunga, daripada semua ciptaan-Nya.”

“Apakah Dia bisa terbang seperti burung?”

“Dia yang menciptakan burung. Tapi, ya, Dia bisa melakukan apa saja, termasuk terbang ...”

“Apakah Dia juga bisa berenang seperti ikan?”

“Ya, bisa saja. Dia bisa melakukan apa saja. Dia juga yang menciptakan ikan.”

“Tuhan baik hati?”

“Iya, Tuhan sangat baik. Meski manusia kerap berbuat salah, Tuhan selalu memaafkan dan tetap menyayangi kita.”

“Oh, aku tahu sekarang, Bu!”

“Apa?”

“Tuhan itu seperti anjing, ya, Bu?”

Ibu tertawa lebar. “Bukan, dong, Sayang. Bukan. Tuhan yang menciptakan anjing ...”

Gibran melongok sesaat, tampak sedikit tak rela, tetapi kemudian tetap mengangguk.
Lalu kembali bertanya setelah diam beberapa saat.

“Berapa nomor telepon Tuhan, Bu?”

“Ah, Tuhan tidak butuh telepon, Sayang. Dia bisa mengetahui dan mendengarkan segalanya.”

“Jadi, kuping-Nya besar sekali, ya, Bu?”

“Uhm, Tuhan itu Maha Mendengar, tapi Dia tidak punya kuping seperti manusia.”

“Tapi bagaimana aku bisa ngobrol dengan-Nya?”

Ibu menarik tangan Gibran, lalu memangkunya dan membelai kepalanya.

“Ibu bilang, kan, Tuhan itu di mana-mana. Jadi, Tuhan juga ada di dalam sini.”
Ibu menunjuk dada Gibran.

Mata Gibran membesar. “Di dalam aku? Berarti Dia kecil sekali, ya?”

“Hum, Dia Mahabesar, tapi kasih sayang-Nya Dia turunkan ke hati setiap makhluk, termasuk kepadamu. Dia ada di dalam kamu. Dia juga ada di dalam Ibu.”

“Kalau dokter operasi badan kita, dia bisa lihat Tuhan?”

“Tuhan tidak bisa dilihat, diraba, didengar secara langsung. Tuhan hanya bisa dirasakan.”

“Coba sekarang, Gibran bernapas ... hirup udara. Ambil napas. Tahan. Embuskan.
Ambil napas lagi. Nah, terasa ada udara yang masuk, kan? Tuhan seperti udara, tidak bisa dilihat, didengar, diraba, tapi selalu ada. Di sekitarmu, kamu dikelilingi udara, tapi ketika kamu hirup, kamu merasakan udara itu masuk.”

“Kalau aku kentut, udaranya keluar lagi, Bu.”

Ibu tertawa. “Iya, tapi tiap kamu bernapas, udaranya masuk lagi, kan ...”

“Jadi, kalau aku kentut, Tuhan pergi. Aku bernapas, Tuhan datang lagi?”

“Tuhan selalu ada, Gibran.”

“Apa Tuhan tidak pernah libur?”

“Tidak, Tuhan tidak butuh liburan. Dia tidak pernah capek. Dia mengurus semua makhluk-Nya setiap waktu.”

“Bagaimana caranya? Apa tangan Tuhan banyak banget, Bu?”

“Gibran tahu, seperti listrik. Dia membuat segalanya bekerja — lampu nyala, TV nyala, oven, hape — semua karena listrik. Tuhan seperti itu, mengerjakan segalanya tanpa tangan, tidak seperti manusia ...”

“Pantas semalam Ibu menangis, ya?”

“Heh?”

“Iya, waktu lampu dimatikan, Ibu menangis. Itu karena Tuhan pergi, ya, Bu?”

“Tidak, Sayang, Tuhan tidak pernah pergi. Kadang kalau Ibu sedih, Ibu akan menangis. Tapi Ibu percaya, Dia selalu memeluk Ibu. Dia juga memeluk kamu. Karena Dia Mahabesar.”

“Kalau begitu, Ibu salah ...”

“Kenapa, Gibran?”

“Tuhan tidak mungkin ada di dalam kita, Bu. Pasti kita yang ada di dalam Tuhan.”


_______

Sumber: Buku kumpulan cerpen Memburu Muhammad (Bentang Pustaka, 2020)

Komentar