Oleh Encep Abdullah
I
Apa yang harus aku katakan padamu? Semua tersekat dinding-dinding pembatas yang amat kuat. Aku belum bisa menembusnya. Haruskah aku menjadi makhluk halus untuk sampai ke hatimu, atau menjadi malaikat bersayap yang melingkar di atas kepalamu? Entahlah. Barangkali aku hanyalah Santiago dalam The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway yang bertempur menghadapi ombak di tengah lautan.
II
Tak perlu aku bercerita padamu tentang mawar yang jatuh berguguran di rambutku. Harumnya selalu semerbak meski telah lepas dari tangkainya, meski durinya teramat nyeri di ubun-ubunku, menusuk hingga ke otak. Namun, itulah caraku untuk mencintaimu.
III
Tak ada cara yang indah menujumu selain kutulis bait-bait sajak ini. Seluruh tubuhmu adalah huruf-huruf yang amat jelita, menarik untuk kupetik menjadi kata dan frasa, dalam tiap baris, dalam tiap bait.
IV
Berapa kali harus kutafsirkan gerak angin yang kautiup di tubuhku? Tak bisa kubaca gerak tanganmu dengan mata telanjang. Kau begitu cepat, melesat sekelebat petir yang menyambar pucuk pohon kelapa.
Tak semudah itu kubaca kata yang keluar dari sela-sela jarimu—beterbangan. Namun, aku tergoda untuk menangkapnya lalu memakannya seperti rendang yang siap didendangkan ke dalam mulut. Sekilas menatapmu, kau begitu renyah untuk kukunyah menjadi darah, menjadi sajak, menjadi kata yang tak mau lepas dari waktu yang terus berdetak.
V
Dan hari ini aku masih terperangkap waktu di laci matamu.
2014

Komentar
Posting Komentar