- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh Encep Abdullah
ANGIN topan meluluhlantakkan pesta perkawinan Rukmana dan Gora. Tenda dan segala isinya terbang melayang ke langit. Orang-orang berhamburan mencari perlindungan. Anehnya, rumah-rumah yang ada di sekitar tenda tak ada yang hancur—utuh sempurna. Orang-orang menyaksikan kejadian itu dengan amat naif. Mereka saling menyalahkan dan meyakini ada sesuatu yang salah dalam pesta perkawinan itu.
Salah seorang meyakini ada penyelundup yang masuk ke dalam tenda. Yang lain meyakini ada kesalahan kostum dari kedua mempelai. Yang lain lagi malah menduga kedua mempelai pernah melakukan hubungan badan di luar nikah. Berbagai persepsi itu tak beralasan logis. Tak ada bukti-bukti yang jelas. Perselisihan pun tak berujung.
“Barangkali ada murka Tuhan yang tersembunyi,” gerutu salah seorang, sedangkan yang lain masih sibuk menyaksikan peralatan pesta perkawinan yang melayang di atas awan itu.
Sebentar lagi senja menutup hari. Kedua mempelai sedang asyik berdendang di kamar. Keduanya mengunci pintu rapat-rapat. Orang-orang tak ada yang tahu mereka saling berselimut tubuh di kamar itu. Mereka saling beradu kasih.
“Kamu tahu, ini bulan apa?” tanya seorang tua renta kepada menantunya.
“Safar, Nek.”
“Astagfirullahalazim….”
***
Rukmana sudah hampir genap dua belas bulan hamil, tetapi anak dalam perutnya itu belum juga keluar. Ia sudah tak kuat menahan berat tubuhnya. Perutnya sangat membuncit, bahkan melebihi perut seorang badut dalam pesta ulang tahun. Ia sudah sangat ingin melahirkan, tetapi keadaan berkata lain. Ia belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Mau tak mau, akhirnya ia memutuskan untuk sesar.
Menuju rumah sakit, tiba-tiba perut Rukmana mengempis. Rukmana dan suaminya kaget bukan kepalang. Gora memeriksa bagian bawah rok Rukmana, siapa tahu anaknya berada di situ. Semua sia-sia belaka. Tak ada seonggok daging pun di bawah rok istrinya. Mamang angkot yang dicarter Gora pun ikut mencari sambil kelimpungan bingung atas peristiwa yang sedang terjadi malam itu.
“Pak, kok anaknya bisa hilang begini? Memang tadinya ngidam apa?”
“Saya tidak tahu, Mas.”
Gora masih sibuk mencari anaknya di kolong-kolong mobil.
“Sayang, anak kita ke mana ini?” tanyanya cemas kepada istrinya yang, hebatnya, juga ikut mencari sambil sesenggukan menangis.
Malam sudah larut. Keadaan makin semrawut. Rukmana masih menangis, malah semakin deras air matanya mengalir di pipi. Orang-orang di sekitar ikut mencari hilangnya anak dalam perut Rukmana itu. Hasilnya nihil. Tak ada hasil. Orang-orang—lebih-lebih Gora dan Rukmana—bingung setengah mati.
Apa yang salah dari diriku? pikir Rukmana.
Tak ada gejala aneh sedikit pun sebelumnya, tetapi lagi-lagi nasib berkata lain. Pada malam itu, gonggongan dan lolongan anjing terdengar saling bersahutan dari balik semak-semak di sekitar tempat Rukmana dan Gora bersinggah. Anjing-anjing tampaknya sedang naik berahi untuk kawin dengan pasangannya masing-masing.
Gora dan Rukmana sudah terlalu lelah mencari anak mereka yang hilang. Keesokan hari, keduanya menemui seseorang yang dianggap pintar untuk mengetahui di mana keberadaan anak mereka.
“Ini semua karena waktu,” ujar Ki Samud.
“Maksud Ki?”
“Seharusnya kau tidak melakukan pernikahan di bulan Safar.”
“Kenapa, Ki?”
“Kau tahu, nenek moyang dulu percaya bahwa Safar adalah bulan yang penuh kesialan. Safar itu sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan bisa menimbulkan penyakit. Untungnya istrimu masih selamat. Jangan melakukan aktivitas apa pun pada bulan ini, apalagi bepergian jauh. Bulan Safar adalah bulan ketika banyak penyakit menyebar, bulan ketika anjing-anjing kawin, dan masih banyak lagi kesialan yang lain. Dan ingat, jangan main-main juga dengan Safar Rebo Wekasan pada minggu keempat bulan Safar. Itu puncak hari paling sial yang terjadi pada manusia.”
Gora dan Rukmana saling tatap setelah mendengarkan penjelasan Ki Samud. Mereka merasa bersalah atas waktu pernikahan dulu. Mereka tidak tahu kalau pernikahan mereka terjadi pada bulan Safar. Mereka juga berhubungan badan di bulan Safar. Mereka benar-benar tidak tahu mengenai hal itu. Keduanya kembali menatap Ki Samud.
“Anak kalian hilang, itu juga salah satu dampak bulan Safar. Safar juga bisa berarti kosong, dan akhirnya perut istrimu ikut kosong,” tukas Ki Samud lagi.
Gora dan istrinya mengangguki semua yang dikatakan Ki Samud.
Sepulang dari tempat ritual itu, Gora langsung mengumumkan kepada seluruh warga kampung tentang kesialan bulan Safar. Orang-orang antusias mendengarkan penjelasan Gora yang amat bersemangat—barangkali suara di toa masjid pun kalah keras. Dari pedagang asongan, Pak RT, ustaz kampung, sampai sesepuh kampung menyimak penjelasannya.
“Astagfirullah, musyrik kamu percaya itu!” ujar Ustaz Kampung sambil menunjuk Gora yang masih ngos-ngosan usai bercerita.
“Ini sudah ada buktinya. Anak saya hilang!”
“Itu sudah takdir,” ujar Pak RT dengan nada lembut.
“Jangan merusak bulan kedua Hijriah ini dengan takhayul. Baru saja kita merayakan Tahun Baru Islam, masa iya langsung dirusak dengan hal seperti ini,” jelas ustaz kampung itu kepada para warga yang kontra dengan keyakinan tentang Safar.
“Kenapa, ya, setiap bulan kedua setelah tahun baru itu ada saja yang dipertentangkan? Misalnya Februari yang juga banyak merayakan Valentine. Ini setelah Muharam ada Safar yang juga diperselisihkan,” ujar salah seorang pemudi.
“Hei, diam semua! Ini bukan perkara percaya atau tidak percaya. Ini soal apa yang sudah terjadi. Saya yang mengalami sendiri!”
Warga yang lain pun protes. Seisi kampung saling berseteru akan kebenaran Gora. Akhirnya, dari perseteruan itu pecahlah kampung menjadi dua bagian: kampung yang percaya kesialan Safar dan kampung yang tidak percaya. Kedua kubu itu pun menjadi sorotan para wartawan.
***
Gora beserta warga Kampung Safar sibuk melakukan berbagai ritual tolak bala. Mereka menulis wafak di atas piring, kemudian dibilas dengan air, lalu dicampurkan ke dalam drum agar bisa dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk diminum. Orang-orang mengantre, bahkan rela berdesak-desakan mengambil air tolak bala itu. Rumah Gora selalu ramai dikunjungi warga.
Selain itu, ada pula beberapa warga yang melakukan ritual tolak bala dengan cara memanjatkan doa dan mandi di pantai, sungai, atau tempat-tempat keramat tertentu.
Kampung sebelah merasa terganggu dengan segala ritual Kampung Safar. Beberapa tokoh datang membawa golok, kapak, dan parang, menerobos pagar pembatas kampung. Mereka menghancurkan segala macam wafak dan perangkat tolak bala, menyusuri sungai, dan menghajar orang-orang yang sedang melakukan ritual di sana.
“Dasar tak punya adab!” ujar Gora kepada Ustaz Kampung.
“Kau yang tidak punya adab!” balas Ustaz Kampung sembari menyingsingkan sebilah golok.
“Apa salah kami? Kita sudah sepakat untuk berpisah. Kami dengan kehidupan kami, kalian dengan kehidupan kalian.”
“Tidak bisa! Kami merasa terganggu dengan aktivitas kalian. Kami tidak mau golongan kalian secara diam-diam memengaruhi golongan kami dan orang-orang di luar sana yang berkeyakinan benar. Kalian sudah tersesat!”
“Justru kalian yang tersesat! Kami memercayai apa yang sudah terjadi. Kami tidak mau berpenyakit dan banyak korban berjatuhan di kampung kami.”
“Persetan dengan penyakit! Penyakit itu datang dari Allah, bukan dari takhayul seperti ini. Persetan dengan Safar!”
“Diam! Iblis!”
Kedua warga pun saling bertikam. Tak mengenal yang dulunya pernah jadi sanak saudara atau tidak. Golok melayang. Darah bercucuran ke mana-mana. Ibu-ibu dan anak-anak hanya bisa menjerit melihat pertikaian para suami mereka. Mayat bergeletakan di mana-mana. Malam pun hening.
***
Gora dan Rukmana menghilang entah ke mana. Selepas kemenangan pertempuran, keduanya bersepakat untuk kabur dari kampung. Mereka sudah tidak betah dengan ketidaksepahaman dengan kampung sebelah. Warga Kampung Safar tak ada yang tahu di mana dan kapan keduanya pergi.
Pesan-pesan yang disampaikan Gora masih melekat dalam benak warga, meskipun jumlah kepala keluarga tak seperti dulu. Para dedengkot kedua kampung itu sudah menghilang—sebagian tewas. Tak ada lagi tokoh berpengaruh untuk melanjutkan pertempuran. Akhirnya kedua kampung tersebut rujuk kembali dan berdamai daripada nanti semakin banyak korban berjatuhan dan penduduk semakin sepi.
Mereka tak mau lagi berseteru tentang siapa yang masih percaya dan siapa yang tidak. Semua melebur menjadi satu. Sejak pertempuran itu, warga bersepakat tidak ada yang keluar rumah sampai minggu terakhir bulan tiba. Mereka hanya berdiam diri di dalam rumah. Dalam kesepakatan mereka, keluar rumah berarti mengantarkan nyawa pada hantu.
“Sekarang aku percaya, barangkali inilah Safar. Warga kampung kita sudah dikepung penyakit mematikan—penyakit hati. Lama-lama begini bisa habis penduduk kita.”
“Barangkali begitu.”
“Anjing! Ke mana si Gora? Tak bertanggung jawab!”
“Iya, giliran sudah begini saja ia menghilang. Lantas, siapa yang mengatur kita? Selain Pak Ustaz, cuma dia yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural.”
“Ah, biarlah! Semoga ia di sana dimakan makhluk buas!”
“Semoga.”
“Amin.”
Para warga saling menghujat Gora. Mereka tak terima kampung mereka hanya dijadikan lelucon pertempuran semata. Namun, apalah daya, tak ada yang bisa mereka lakukan selain meluapkan segala kegundahan hati kepada para tetangga sekitar.
***
Malam itu gonggongan anjing bertubi-tubi meneriaki telinga Gora dan Rukmana. Perjalanan mereka menuju entah ke mana seketika terganggu. Mereka melempari anjing-anjing itu dengan kayu dan batu, tetapi tetap saja anjing-anjing itu tak mau pergi—malah semakin mendekat.
Gora dan Rukmana sudah teramat kesal. Mereka mendekati anjing-anjing itu lalu memukuli mereka hingga tewas. Tubuh keduanya penuh bercak darah. Namun anehnya, gonggongan suara anjing itu masih terngiang di kepala mereka.
Tak lama kemudian, anjing-anjing lain berdatangan dari semak-semak. Mendekat. Semakin mendekat.
Gora dan Rukmana pusing tujuh keliling. Tak sanggup mereka menghabisi sebanyak itu. Keduanya diterkam bertubi-tubi. Baju sobek. Kulit sobek. Wajah sobek. Dan hati mereka juga ikut sobek.
***
Ki Samud tiba-tiba tertarik untuk mengunjungi warga Kampung Safar yang sedang sibuk membagi-bagikan kue apem kepada tetangga. Mereka saling berbahagia. Memandangi peristiwa itu, Ki Samud mengernyitkan dahi. Keringatnya bercucuran. Kue apem adalah simbol bahwa hari sudah memasuki Safar Rebo Wekasan. Ki Samud teringat Gora dan istrinya. Mereka tak ada di tempat itu.
“Matilah kalian…!” Ki Samud menundukkan kepala.
Pontang, 27 November 2013
Komentar
Posting Komentar