Cerpen Juara I Tulisme 2019 | Solilokui Strukturalisme Cerita Pendek dan Kematiannya di Tangan Cerpenis

 Oleh Encep Abdulah


Beberapa minggu terakhir ide-ide mendadak datang kepada saya dan meminta untuk ditulis. Ide-ide itu memaksa saya. Untuk sementara ini saya selalu menolaknya. Saya banyak urusan. Banyak kerjaan. Tapi, ide itu datang lagi dan lagi. Mengganggu waktu tidur saya. Mengganggu waktu istirahat saya. Sampai sekarang ide-ide itu masih menuntut. Malam ini, saya paksa membuka laptop. Saya menghela nafas. Saya pejamkan mata.

***

TEMA

Aku tahu IA memang sedang kebanjiran ide. Di kepalanya berkelebatan ide-ide gila. IA sudah merancang sedemikian rupa. Ada tema cinta, korupsi, seks, Tuhan, dan sebagainya. Tapi toh, apalah artinya aku tanpa judul. Aku ini cakupannya luas. Tentu IA harus mengerucutkannya dalam judul. Jangan samakan aku dengan judul. Lihatlah betapa banyak bocah-bocah sekolah dan penulis-penulis dungu yang tidak dapat membedakan mana aku dan mana judul. Dan IA sangat mahir membedakannya sejak mendengar penjelasannya dari Mahdiduri, guru sablengnya.

“Kau harus menulis tema yang aneh!”

IA hanya mengangguk.


JUDUL

Meskipun aku ini sempit tak seperti tema, tapi aku bisa bikin pusing IA. Dulu, sebelum IA sehebat sekarang ini, IA tak pernah selesai membikin cerita pendek. Yang selalu IA pikirkan adalah aku.

“Apa ya judulnya?”

Lalu, IA susun daftar menu. Tidak cuma satu-dua, malah sampai ratusan. IA tulis aku begitu banyak dalam secarik kertas yang IA lipat dan simpan di dalam dompetnya. Juga beberapa ada di dalam memori ponselnya.

Lelaki Ompol

Safar Rebo Wekasan

Mata Malaikat

Alamanda

Bandrong

Sup Jempol Kaki Ustaz

Meriam

Kaboa

Keranda Mudik Mang Sarkim

Kawah Candradimuka

“Duh, yang mana dulu yang harus saya buat!”

Begitulah. IA selalu dipusingkan dengan perkara diriku. Padahal aku bisa dibuat belakangan. IA terobsesi Kurnia Effendi yang rajin mencatat judul cerpen. Atau barangkali IA sedang menyusun buku kumpulan judul cerita pendek. Toh, belum pernah ada, bukan? Mungkin IA adalah penulis satu-satunya bila memang benar-benar bikin buku kumpulan judul cerita pendek itu. Padahal mencari kata-kata buatku gampang, lihatlah judul-judul cerita pendek Putu Wijaya: Klop, Dokter, Guru, Laila, Maling, Keadilan, Boikot, 2011, Maaf, cuma satu kata. Atau mau panjang seperti judul cerpen karya Benny Arnas: Suatu Waktu Kau Akan Menjelma Buku Tua di Perpustakaan yang Kuambil Sebab Hasrat untuk Mencium Aroma Kertas Tua yang Menguning dan Bebercak di Tiap Halamannya Sungguh Tak Kuasa Kukendalikan dan Kau Tidak Harus Bertanya Macam-macam Tentang Itu. Itu juga boleh. Keren.

Ah, betapa pun banyaknya aku yang IA tulis, percuma kalau tidak dimulai dari langkah pertama, yaitu kata atau kalimat atau paragraf pertama. IA selalu bandel kalau dikasih tahu. Padahal sebenarnya IA paham. Ini efek IA sudah lama tidak menulis cerita pendek. Jadi, sekarang mandek. Macet. Cuma bisa bikin judul tanpa bisa bikin cerita.


TOKOH DAN PENOKOHAN

Kami adalah dua sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada tokoh, di sana ada penokohan. Ketika ada penokohan berarti tokoh itu benda hidup. Bernyawa. Punya perasaaan. Bisa baik, bisa juga busuk.

“Aku sebagai tokoh selalu berpesan kepada penokohan agar jangan terlalu sadis. Namun, di satu sisi aku datang dan meminta menjadi peran yang kejam, bengis, tak punya rasa takut, dan tak berperasaan.”

“Kadang, aku sebagai penokohan tidak bisa menolak permintaan. Karena aku senang dengan permintaan. Justru aku suka bingung dengan tokoh yang tak mau memilih perangainya dalam hidup. Seperti IA.”

Ketika mengonsep sebuah cerita, IA selalu pilah-pilih kami. IA tidak mau memberi nama tokoh seperti Ken, Boy, Jessen, atau berbau-bau barat. IA lebih senang menamainya dengan Durakhim, Sarkim, Somad, Juned, Gora. Nama-nama ala Arab atau orang-orang kampung. Saking sibuknya mencari nama, IA malah lupa mau memberikan watak apa pada manusia rekaannya. IA kebigungan sendiri ketika nama-nama itu bersanding dengan manusia lain yang kebarat-baratan. IA tidak bisa mengolahnya dalam satu tema dan judul yang IA buat sendiri.


ALUR

Aku ini sangat berperan penting dalam cerita. Tanpa aku, tidak akan tercipta sebuah cerita. Seluruh rangkaian cerita adalah hasil dedikasiku. Sayang, IA suka plin-plan ketika menulis. Bahkan sejak awal. Ini akibat IA membaca sebuah teori yang ada di dalam buku LKS Bahasa Indonesianya waktu SMA. Aku terbagi menjadi tiga: maju (progresif), mundur (regresi), dan campuran (maju-mundur). IA bingung dengan istilah-istilah itu. Ketika IA menulis, IA selalu bertanya “Ini alur apa ya? Kan bukan alur ini yang aku inginkan!”

Itulah yang membuat IA selalu mendek di tengah jalan. Padahal tulis saja aku sesuai kodrat, sesuai takdir. Tentu takdirku ada pada IA sebagai penulis. IA yang bertindak sebagai Tuhan. IA yang punya rencana tentang segala peristiwa, konfliks, dan klimaks. IA juga kadang tidak bisa membedakanku dengan plot. Sebagian orang menyamakan, sebagian lagi membedakan. Plot, kata Aswendo adalah sebab-akibat yang membuat cerita lebih berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar. Seseorang mati itu alur. Seseorang mati karena ditolak calon mertua pacar itu plot. IA tidak bisa membedakan itu. Sehingga cerita-ceritanya kerap kali tak punya sebab-akibat.

“Ah, kata teman saya juga, Eko Triono, cerita itu tidak harus dirangkai dengan persoalan sebab-akibat. Cerita semacam itu sangat tampak dungu dan seolah sudah disusun sedemikian rupa oleh si penulis. Dan saya pernah baca cerpen Agus Noor berjudul Puzzle Kematian Girindra. Itu cerpen kurang ajar, alurnya bikin saya kesal.”

IA memang punya banyak teman. Teman-teman IA cukup mempengaruhi jalan pikirannya. Sampai IA tak sempat lagi membedakan aku dan plot. Melupakanku dan meleburkanku dalam imajinasi liarnya.


LATAR

Aku digemari banyak kalangan. Terutama bagi para penulis remaja. Aku selalu diburu. Aku selalu dicari untuk dijadikan objek tempat para tokoh untuk berdialog atau bercinta atau apalah untuk melangsungkan hidup dan aktivitas mereka. Kebanyakan mereka membawa aku ke pantai, ke kota-kota besar, atau sekadar menempelkan nama pada alur cerita saja. Dalih-dalih mereka menyebut semua itu sebagai lokalitas.

Dulu, IA juga pernah terjebak dalam perkara ini. Namanya juga abege. IA butuh waktu sepuluh tahun untuk memahami maksud lokalitas dalam sebuah cerita. Sejak IA beristri barulah sedikit mengerti. IA memang salah satu pengagum cerita-cerita Niduparas Erlang. IA banyak belajar memahami latar berkat membaca cerpen-cerpen Nidu. IA juga pernah membaca sebuah buku tentang lokalitas dalam sastra. Kalau tidak salah IA membaca pandangan Melani Budianta. Menurut Melani, lokalitas adalah proses pembumian yang tidak pernah berhenti bergeser, berpindah, dan berubah. Penjabaran ini IA artikan sendiri dalam pikiran dan jiwanya. Dan, hingga ini penjabaran itu masih IA pelajari, barangkali apa yang IA maknai pada waktu itu bisa berubah pada hari ini sesuai tingkat bacaan dan pengetahuannya.

“Kalau saya cuma memikirkanmu sebagai tempat, kapan saya bisa memaknaimu sebagai waktu dan suasana. Tentu cerita tanpa waktu dan suasana adalah kosong,” ujar IA.


SUDUT PANDANG

Aku selalu dimain-mainkan oleh IA. Juga kerap oleh para penulis ternama. Misalnya pada cerpen Solilokui Bunga Kemboja karya Cicilia Oday, Sukab dan Sepatu karya Seno Gumira Ajidarma, Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu karya Agus Noor, Iblis Ngambek karya Indra Tranggono, dan Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? Karya Faisal Oddang. Para penulis beken dan tua-muda itu rajin sekali memainkanku. Pandai beralih-alih peran. Pandai memberikan perasaan kepada setiap tokohnya walau bukan manusia.

IA sedang belajar menulis semacam itu. Beberapa minggu terakhir ini IA memang sedang memikirkanku. Sudut mana yang mau IA pakai. IA banyak mikir. Tapi, memang bermain-main denganku amatlah seru. Harus pandai mengolah rasa. Harus pandai berbagi rasa. Harusnya IA membaca cerita-cerita yang aku sebutkan di atas. Kayaknya IA memang belum membacanya. IA cuma terpaku pada cerita-cerita Niduparas Erlang, seolah menjadi kiblat dalam tulisannya. Bila ditelisik, Nidu berkiblat kepada James Joyce. Harusnya IA membaca James Joyce langsung. IA sudah tersesat. Pantas saja cerita-cerita pendek IA tidak berkembang. IA terpaku pada satu titik beku tentang cerita pendek sehingga melemahkan imajinasi untuk bermain-main denganku.


GAYA BAHASA

Nah, kalau aku memang sering dimain-mainkan oleh Niduparas Erlang. Cerpen-cerpennya adalah distorsi terhadap bahasa. Bahkan beberapa mahasiswa meneliti buku cerpen Nidu sebagai skripsi. Nidu memang jatuh cinta kepadaku. Senang mempermainkanku. Bahasa ceritanya meliuk-liuk. Melabrak tatanan gramatika bahasa. Penuh perumpamaan, terutama simile, metafora, dan personifikasi. Dalam novel, kau bisa temukan aku dalam Cala Ibi karya Nukila Amal. Aku dalam novel itu mirip dengan puisi. Bahasanya indah, penuh lambang, tanda-tanda, misteri, dan rahasia alam semesta.

Lalu, IA?

IA sejauh ini belum begitu menguasaiku meski beberapa kali karyanya dimuat di koran. IA hanya menulis apa adanya. Gaya berceritanya biasa-biasa saja. Padahal IA lulusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, masa sih IA tidak menguasai.

“Bangku perkuliahan saya bukan untuk gaya bahasa, tapi untuk gaya hidup.”

“Pantas saja cerpenmu buruk.”

“Diam!”

IA membentakku. Aku ngambek dan tidak mau bicara lagi padanya. Biarkan saja, aku tidak akan bantu lagi ketika IA menulis cerita.


AMANAT

Aku selalu dicari-cari oleh pembaca moralis. Apa amanatnya? Apa pesan yang terkandung di dalamnya? Aku menghantui jalan pikiran pembaca awam sebelum mereka benar-benar membaca. Lihat, betapa banyak guru melarang siswanya membaca Dilan. Katanya nanti nakal. Nanti ikut-ikutan kayak Dilan. Padahal guru itu belum membaca buku itu sampai habis. Andaipun habis, sejatinya mampu membedakan mana ajakan aku yang baik dan mana yang buruk. Kayak tidak pernah melihat pantat ayam saja: toh dari situ keluar tahi dan telor. Kalau murid-murid tersesat, yang menyesatkan adalah gurunya, tak mampu menjelaskan manfaat membaca. Membaca buku harus selalu yang terlihat bermoral, judul yang bermoral, judul yang tampak jelas pesannya. Aku kadang suka marah. Padahal apa pun ceritanya, tentang apa saja, tentu ada hikmahnya. Makanya, budayakan baca sampai selesai, jagan setengah-setengah. Kayak IA yang dulu suka mencari-cari amanat sebelum memulai menulis. Padahal aku dihidupkan dan didapatkan dari keseluruhan rangkaian si Alur. Aku boleh dicari sesuka hati, tapi tolong jangan paksakan pembaca dan penulis untuk mencari-cariku sebelum selesai membaca.

IA selalu aku nasihati. Tulis saja apa yang ada di kepala. IA selalu tidak enak ketika menulis kata -kata semacam “sperma”, “payudara”, “bangsat!” katanya itu cabul.

“Aku tidak mau terlihat jorok dan seksual di mata pembaca. Aku harus jadi penulis bermoral,” ujar IA.

***

Saya tidak pernah tenang lagi menulis cerita pendek. Dulu, saya memang jatuh cinta. Sekarang saya sudah muak. Cerita yang akan saya tulis terlalu rewel. Strukturalisme cerita pendek itu cuma menganggu pikiran saya. Mengganggu waktu istirahat saya. Mereka terus mengolok-olok saya. Seolah apa yang dulu pernah saya tulis tidak pernah mereka anggap. Jelek. Buruk. Mereka kira, saya tidak menghabiskan energi ketika menyelesaikan sebuah cerita pendek. Saya harus mondar-mandir mencari referensi. Dikejar-kejar ide. Dikejar-kejar waktu. Dikejar-kejar ocehan istri dan tangisan anak. Mereka lupa dan tidak berterima kasih kepada saya. Padahal, saban minggu mereka masuk koran. Semua berkat siapa? Berkat saya. Mereka terkenal berkat siapa? Berkat saya. Tapi lihat sekarang. Betapa bangsat! Mereka menyebarkan aib saya kepada para pembaca. Kepada para penulis. Kepada para redaktur koran. Kalau sudah begini, siapa yang malu?

Mulai detik ini saya akan berhenti menulis cerita pendek! Saya anggap bahwa cerita pendek tak pernah hadir di dunia ini. Tak pernah hadir dalam hidup saya. Dan, semua cerita yang pernah dimuat di koran akan saya bakar habis. Juga, menghapus mereka dari laptop saya. Dari pesan-pesan terkirim di email saya. Saya anggap cerita pendek sudah mati! Mati! Mampus dikoyak penulisnya sendiri.

***

Mata saya terbuka. Dan, kertas digital pada layar laptop itu tiba-tiba tertulis sebuah judul:

SOLILOKUI STRUKTURALISME CERITA PENDEK DAN KEMATIANNYA DI TANGAN CERPENIS

Kiara-Pontang, 15--16 September 2018




PENULIS

Encep Abdullah, dilahirkan di Serang pada 20 September. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Untirta. Karyanya tersebar di koran dan majalah lokal dan nasional. Buku ceritanya yang sudah terbit Lelaki Ompol (CBK, 2017). Mendapat Anugerah Seni dari Dewan Kesenian Banten (DKB) di Bidang Sastra sebagai “Penggerak Sastra Generasi Muda 2017” di Banten. Pendiri Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) dan Klinik Menulis., serta Dewan Redaksi ngewiyak.com.


Komentar