Cerpen | Penyair Temperamental yang Membunuh Para Cerpenis Koran [Nyamnyong]

Cerpen Encep Abdullah


Aku baru saja menekan pelatuk pistol tepat di jidat Nyamnyong. Isi kepalanya buyar. Muncrat di wajahku. Sungguh, aku sangat bahagia. Nyamnyong adalah cerpenis kelima puluh yang aku bunuh.

***

Aku sungguh benci penulis cerita pendek. Mereka itu makhluk aneh yang hadir di muka bumi. Terutama cerpenis-cerpenis tanah air kita. Cerita mereka terlalu berlebihan. Misalnya, Ada Ular di Mangkuk Tuhan, Perempuan yang Kawin dengan Malaikat, Sepotong Bulan untuk Biniku, Setan Ngambek, dan sebagainya.

Aku mengutuk cerita-cerita semacam itu. Menyebalkan. Dimuat di koran pula. Ah, selera redaktur memang segalanya. Tak terbantahkan!

“Hai, Tuan!” Tokoh Nyamnyong tiba-tiba muncul dan berkata dalam cerita ini.

“Ada apa kau? Kau itu sudah mati, ngapain nongol lagi?”

“Tuan ini penulis aneh. Jangan karena karya Tuan tak pernah lolos di koran besar, Tuan malah main risak karya orang lain.”

“Apa urusanmu? Kau mau tokohmu dalam cerita ini aku bunuh?”

Nyamnyong diam. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia takut aku bunuh dua kali: nyawa dalam kehidupannya dan nyawa dalam ceritanya. Dia tidak pernah sadar bahwa aku adalah Tuhan dalam cerita ini. Tidak bisa aku diatur-atur oleh tokohku sendiri.

Apa yang Nyamnyong sampaikan itu tidaklah benar. Tolong jangan dipercaya. Masa cuma gara-gara karyaku tidak dimuat di koran besar lantas aku ngambek dan membunuh orang? Maaf, aku bukan tipe orang semacam itu. Bukan gara-gara itu.

Kalau kau ingin tahu, coba dengar sedikit ceritaku ini.

Dulu—juga sekarang—aku adalah seorang penyair. Koran-koran belum banyak memuat cerita pendek. Jadi, karyaku dengan leluasa bisa masuk media. Kehidupanku sejahtera. Aku bisa mendapatkan banyak uang setiap bulan, bahkan tiap pekan dari koran-koran itu.

Entah mengapa dan pada musim apa, tiba-tiba ruang puisi di koran dihapus dan diganti dengan ruang cerita pendek. Awalnya hanya satu dua koran. Tiba-tiba semua koran ikut-ikutan. Bahkan koran tersebut bisa memuat tiga cerpen setiap pekan.

Lambat laun makin ngelunjak. Para cerpenis bersorak-sorai, berjaya di koran. Nama-nama yang sering dimuat mendadak jadi artis. Orang-orang pun mulai bersimpati kepada cerita pendek. Dunia puisi dinomorsatukan? Tidak. Dinomorseribukan. Sudah tidak penting lagi.

Sebagian cerpenis bilang di Facebook bahwa para penyair adalah orang-orang sesat. Jadi memang seharusnya kolom puisi ditiadakan. Kata salah satu redaktur koran yang menulis di akun Twitter-nya, “Ruang puisi hanya buang-buang duit untuk tulisan yang tidak seberapa.”

Gila! Ini pembodohan namanya. Kok bisa ya mereka asal bacot? Asal monyong. Mereka tidak tahu apa kalau tukang sajak itu bisa disejajarkan dengan para sufi, dengan ahli filsafat? Tentu derajatnya lebih tinggi daripada cerpenis. Enak saja mereka bilang sesat.

Tentu aku tidak terima. Postingan-postingan para cerpenis dan redaktur koran itu cukup sinis dan membuat geram golongan penyair yang tak pandai menulis cerita pendek.

Demo besar-besaran pun sudah pernah kami lakukan. Para penyair protes karena tidak kebagian lagi ruang puisi di koran dan majalah yang terbit tiap pekan. Tidak seperti dulu. Para penyair makmur. Sejahtera. Mereka bersyair untuk menyuarakan hati yang terluka, rakyat yang tertindas. Eh, malah ruang cetaknya dihapus.

Media-media itu tidak mengerti esensi puisi. Koran-koran itu hanya ingin menarik perhatian pembaca. Karya cerpen dengan mudah dibukukan saban tahun. Dulu, puisi-puisi kami dibiarkan saja seperti sampah. Jadi bungkus gorengan. Jadi penutup mayat di jalanan.

Protes para penyair di jalanan hanya sia-sia. Tidak ada perubahan. Tidak ada kemajuan.

Maka, sejak cerpen mulai menjamur, aku sudah berencana dan bersiasat untuk membunuh para cerpenis koran-koran itu. Biar pelan-pelan tidak ada lagi kolom cerita pendek di koran. Para cerpenis lambat laun habis dan mati. Terutama para cerpenis muda produktif itu. Salah satunya si Nyamnyong.

“Hei, Tuan! Maaf, sekali lagi maaf. Kenapa lagi-lagi namaku yang Tuan panggil?”

“Karena kau korbanku yang paling muda. Masih SMP karyanya sudah dimuat di koran besar. Itu sungguh menyebalkan. Menjijikkan.”

“Apa urusan Tuan?”

“Harusnya kau itu main gundu. Main bola. Main dengan anak-anak seusiamu. Malah kau main sastra. Cerpen pula. Kurang kerjaan! Itu kerjaan orang dewasa!”

“Sastra untuk siapa saja, Tuan. Bukan hanya untuk orang dewasa.”

“Banyak bacot! Sana kau pergi. Ceritaku belum selesai. Jangan kau ganggu. Aku sedang menjelaskan kepada pembaca biar mereka tidak berpikir negatif kepadaku.”

“Tapi, Tuan itu….”

“Eh, kalau kau tak juga diam, aku akan benar-benar membunuhmu dalam cerita ini. Dua kali, loh, kau bisa mati!”

Tokoh Nyamnyong diam. Ia memang cerewet. Ngelunjak, suka memotong pembicaraan orang. Aku melanjutkan ceritaku lagi.

Intinya, sejak dulu aku memang sudah punya niat busuk ini. Tapi baru terlaksana setahun terakhir. Awal-awal aku bunuh para cerpenis tua yang sudah berjaya pada zamannya itu. Mereka itu ngapain sih, sudah tua masih saja menulis cerpen? Kurang tidur mereka. Nanti cepat mati. Ditunggu-tunggu malah tidak koit-koit juga.

Ya sudah, aku buru saja mereka satu per satu. Aku ikuti pergerakan mereka. Mencari alamat rumah mereka dari berbagai sumber—Google, buku, dan sebagainya.

Selama sepuluh tahun terakhir itu, aku juga sembari membaca karya-karya mereka di koran dan buku. Semua karya yang mereka tulis bikin aku mual. Ternyata cerita-cerita mereka hanya guyonan. Tidak serius. Tidak sepertiku sebagai penyair, yang dalam setiap katanya mengandung cahaya permata dan sarat makna bagi pembacanya.

Cerpenis yang aku bunuh di daftar pertama adalah Pak Ceno, sang penulis yang menggemari senja. Saat itu sungguh hatiku tak keruan. Berdebar tak menentu. Waktu itu ia sedang nongkrong di Kantin Sastra kampus Universitas Idola. Aku pura-pura duduk di sampingnya dan memesan minuman yang sama dengannya. Kebetulan kantin sedang sepi.

Aku menunggu Pak Ceno lengah. Tapi aku bingung pada bagian mana harus mengambil tindakan. Tak disangka, Pak Ceno menyapaku.

“Dik, minta tolong jaga tas saya sebentar, ya. Saya mau ke toilet. Tidak tahan.”

Pak Ceno mengira aku mahasiswanya karena tubuhku memang kurus kering dan kecil. Padahal aku adalah penyair yang menaruh dendam kepadanya. Penulis yang kepopulerannya tiada henti diperbincangkan di berbagai event sastra itu akan segera mati di tanganku.

Dengan mudah aku menaruh bubuk yang kusebut racun tikus. Cerita ini memang mirip adegan sinetron. Seolah tahu apa yang ada di kepalaku, apa yang aku mau. Barangkali dan semoga ini awal keberuntunganku. Demi menegakkan keadilan. Mewakili suara dan perasaan para penyair yang mulai sekarat di media massa cetak.

Dengan dada dan langkah gemetar, aku meninggalkan kantin.

Besok paginya aku mendengar kabar dari seorang kawan di Facebook bahwa Pak Ceno tewas. Ternyata ia mati karena digigit tikus-tikus di toilet. Mirip cerita fantasi. Kematian yang lucu dan tidak jelas.

Tetapi aku yakin itu berkat doaku. Berkat ikhtiarku.

Sampailah pada cerpenis kelima puluh. Kali ini aku ingin membunuhnya secara langsung. Malam itu—dengan misi yang membuatku sangat yakin—aku sembunyi-sembunyi mengambil pistol ayahku dari dalam lemari.

Ayahku seorang polisi yang kadang teledor tidak mengunci lemari dan kadang asal menaruh senjata di rumah.

Ada Ken Benggala yang karyanya dimuat di koran Kempas. Di koran lain, ada Nyamnyong. Kemarin ia mengirim foto karyanya kepadaku.

“Alhamdulillah, cerpenku Para Penyair yang Gagal Menjadi Cerpenis dimuat di koran Bempo.”

Aku menelan ludah. Bangsat! Judulnya bikin muak.

Aku mengetuk pintunya. Ia membuka dengan senyum. Dengan tangan gemetar, kutarik pistol dari pinggang dan kusodorkan moncongnya ke jidatnya.

***

Sejak itu, meski aku berada di balik jeruji besi, aku masih punya hasrat memburu kepala cerpenis koran lainnya. Bahkan aku sedang menunggu kapan ceritaku bisa terbit di koran nasional.

Aku sudah tak tahan ingin meledakkan kepalaku sendiri.

Kiara, 10 Oktober 2018

Komentar