Esai M. Enoch Markum | Keserasian dalam Mendidik Anak

 

Keserasian dalam Mendidik Anak

Esai M. Enoch Markum

 

Untuk kesekian kalinya seorang ayah merasa sangat jengkel, ketika ia menyuruh anak laki-lakinya yang berusia lima tahun untuk mandi sore. "Adi ayo lekas mandi, hari sudah sore," demikian ayah memerintahkan anaknya. Tetapi Adi terus asyik dengan mainannya, bahkan menengok pun tidak. Si ayah makin kesal, dan ingat hal ini bukan pertama kali dialaminya. Dua hari yang lalu ketika ia menyuruh anaknya untuk mencuci kaki, Adi malah lari dan tidak mengindahkan perintahnya sama sekali. Oleh karena itu kali ini dengan kesal ia menyeret Adi ke kamar mandi, dan tentu saja Adi bertahan, sehingga tampaklah suatu adegan tarik-menarik antara ayah dan anak yang diikuti oleh jeritan tangis si anak. Pada saat seperti itu, tiba-tiba muncul sang ibu yang langsung menarik anaknya, sambil berkata, "Pak, jangan kasar begitu, Adi 'kan masih kecil." Ayahnya kemudian berhenti, dan Adi aman di pelukan ibunya. Peristiwa semacam ini telah berulang-ulang terjadi pada orang tua Adi. Bila ayahnya melarang Adi untuk tidak melakukan sesuatu hal, si ibu malah membiarkan perbuatan anaknya tersebut, bahkan tidak jarang membelanya. Singkatnya bila ayah Adi bersikap keras dan akan memberikan hukuman, justru si ibu memberikan perlindungan.

Kejadian seperti orang tua Adi ini mungkin juga dialami oleh orang tua yang lain, dengan masalah lain misalnya, waktu mandi, waktu nonton televisi, bacaan anak, uang saku, uang jajan dan sebagainya. Bahkan mungkin tidak hanya terbatas pada ayah ibu yang mempunyai anak kecil seusia Adi tadi. Sering kita mendengar seorang anak menjelang dewasa masih diombang-ambingkan oleh tindakan-tindakan kedua orang tuanya yang tidak sejalan, bahkan bertentangan satu sama lain. Apakah itu dalam pemilihan kegemaran atau hobi, pemilihan jurusan, penentuan fakultas yang dipilih, bahkan mungkin sampai pada penentuan teman hidup berumah tangga. Berbagai akibat pada anak yang dibesarkan dalam suasana seperti ini, bila ditinjau secara psikologi sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan anak.

Favoritisme

Dalam contoh kedua orang tua Adi tadi, terlihat bahwa si ibu sangat melindungi anaknya, sedangkan sebaliknya si ayah kurang menyukai anaknya. Dengan perkataan lain Adi menjadi favorit atau anak kesayangan ibunya. Ada berbagai sebab mengenai hal ini. Mungkin ayah Adi sebenarnya sangat mengharapkan anak perempuan, dan sebaliknya si ibu justru mengharapkan anak laki-laki. Sehingga waktu Adi lahir, sang ayah demikian kecewanya sehingga sadar atau tidak ia selalu menampilkan kekecewaannya dalam bentuk tindakan-tindakan yang pada dasarnya berupa "hukuman". Kesempatan menghukum ini memang ada, terutama bila Adi tidak mengikuti aturan yang seharusnya, seperti dalam hal mandi sore pada waktunya tadi, sebaliknya ibu Adi, oleh karena sangat mencintai anaknya, cenderung untuk membela atau melindungi anaknya, meskipun Adi nyata-nyata bersalah dan harus dihukum.

Favoritisme dapat juga terjadi pada suatu keluarga yang mempunyai lebih dari satu orang anak. Dan ada kemungkinan baik ayah mau pun ibu sama-sama menyukai anak bungsunya dan sangat menanjakannya dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Jadi dalam hal ini tidak ada pertentangan antara suami istri tersebut. Namun ada kemungkinan ayah juga mempunyai anak kesayangan, dan ibu mempunyai anak favorit. Umumnya favorit ayah adalah anak perempuan, sedangkan favorit ibu adalah anak laki-laki. Berbagai teori psikologi menerangkan mengapa sampai terjadi penyilangan favorit ini. Teori psikoanalisa misalnya menerangkan bahwa pada dasarnya anak laki-laki menganggap ayahnya sebagai saingan dalam "mencintai" ibunya. Tentu saja ada teori-teori lain yang mencoba menerangkan gejala ini, tetapi hal ini tidak akan dikupas di sini. Namun gejala favoritisme dalam suatu keluarga, mungkin disebabkan oleh karena anak yang menjadi favorit mempunyai kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Ditinjau dari keutuhan keluarga adanya anak favorit ini sangatlah merugikan. Pada keluarga yang masing-masing suami atau istri mempunyai anak favorit akan terjadi dualisme. Artinya terdapat dua aturan yang berbeda yang dikenakan bagi satu perbuatan yang sama. Dalam mendidik anaknya suami istri atau orang tua bukan lagi menanamkan norma-norma mana yang benar dan mana yang salah, melainkan lebih banyak membela atau melindungi anak favoritnya masing-masing. Sedangkan bagi keluarga dengan orang tua yang memiliki anak favorit yang sama, ini berarti menanamkan iri hati pada anak-anaknya yang lain. Keistimewaan-keistimewaan yang diberikan orang tua kepada anak favoritnya, sebenarnya sekaligus juga berarti menanamkan benih perpecahan dalam keluarga. Di samping itu wibawa orang tua akan jatuh di mata anak-anaknya.

Latar belakang keluarga

Tidak semua istri yang memasuki jenjang perkawinan mempunyai latar belakang sama dengan suaminya. Ada kemungkinan suami berasal dari keluarga yang latar belakang sosial ekonominya tergolong sedang-sedang saja, sedangkan si istri berasal dari keluarga yang serba kecukupan. Mungkin juga suami mendapat pendidikan yang keras dalam arti otoriter, sedangkan si istri dididik atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang lebih demokratis. Demikianlah masih banyak kemungkinan-kemungkinan lainnya, misalnya istri adalah anak tunggal sedangkan suami adalah anak sulung yang mempunyai banyak adik dan harus menanggung adik-adiknya tersebut. Kesemuanya ini akan berpengaruh terhadap cara mendidik anak. Si ayah mungkin akan bersikap keras, menekankan disiplin, hidup hemat pada anaknya. Sebaliknya si ibu juga akan membawakan kebiasaan-kebiasaan cara mendidik di lingkungan keluarganya, yaitu dengan bersikap lebih banyak memberikan kelonggaran-kelonggaran kepada anaknya.

Perbedaan latar belakang antara suami dan istri ini dapat juga berakibat pada timbulnya perbedaan pandangan atau aspirasi mengenai pendidikan anak. Misalnya saja suami menghendaki agar anaknya sekolah setinggi mungkin, sedangkan si isteri beranggapan bahwa anaknya tidak perlu sekolah terlalu tinggi.

Dalam kenyataan cara-cara mendidik atau suasana keluarga ini tidak selalu diterapkan kembali pada waktu seseorang mendidik anaknya. Bahkan sering terjadi justru pola mendidik yang dipraktekkan adalah pola mendidik yang berbeda sama sekali dengan pola yang diterima dari orang tuanya dahulu. Terutama bila pola mendidik yang ia terima dulu dirasakan sebagai suatu penderitaan. Misalnya seorang yang dibesarkan dalam suasana otoriter justru akan mendidik anaknya dengan cara yang demokratis. Demikian juga seorang yang dibesarkan dalam lingkungan yang serba prihatin, serba kekurangan dan biasa hidup hemat, mungkin justru akan membiarkan anaknya berfoya-foya. Dengan alasan bahwa penderitaan cukup dirasakan oleh dirinya saja, ia membiarkan anak-anaknya hidup lebih senang.

Kesibukan Orang Tua

Dewasa ini terutama di kota-kota besar tidak jarang suami istri harus bekerja. Dan kadang-kadang setelah bekerja sehari penuh masih dituntut untuk menghadiri berbagai rapat, pertemuan, resepsi ataupun undangan-undangan lainnya.

Mungkin sekali pasangan suami istri ini merupakan pasangan yang harmonis, dalam arti secara relatif mempunyai latar belakang keluarga yang tidak berbeda. Demikian pula latar belakang pendidikannya, aspirasi mengenai anak, cara mendidik anak dan sebagainya. Namun oleh karena mereka orang-orang yang sibuk, mereka tidak punya kesempatan untuk mengenal anak mereka secara mendalam. Mereka tidak cukup waktu untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi anaknya. Si ayah tidak tahu apa yang telah dikatakan atau yang telah diputuskan istrinya mengenai anaknya. Demikian juga si istri tidak tahu apa yang telah dijanjikan suami terhadap anak mereka berdua. Suami mengira istrinya telah mendidik anaknya, sedangkan si istri beranggapan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab suaminya. Tugasnya hanya berkisar pada masalah dapur, dan bertanggung jawab atas tersedianya makanan di atas meja. Dalam keadaan tidak adanya keserasian seperti ini, ada kemungkinan si ibu menegur anaknya bila melakukan suatu kesalahan, sedangkan ayah membiarkan. Atau apa yang diperbolehkan ibu justru dilarang oleh ayah. Selain itu ada kemungkinan kesalahan yang dilakukan anak ditegur atau dihukum oleh baik ayah maupun ibu. Akan tetapi mungkin caranya berbeda dalam arti yang satu bertindak sangat keras dan yang lain hanya memberikan hukuman ringan. Sehingga kesalahan atau pelanggaran yang sama dihukum secara berbeda. Sebenarnya cukup diberi bentuk hukuman sebagai pencerminan rasa tidak senang dari ayah dan ibu.

Demikianlah kesibukan ayah ibu ini dapat menimbulkan berbagai ketidakmantapan, bukan saja dalam hal menjatuhkan hukuman, tetapi juga dalam hal pemberian hadiah. Misalnya ibu memberikan hadiah, ayah juga memberikan hadiah. Bukankah pemberian hadiah yang berlebihan dan tidak pada tempatnya merupakan pendidikan yang kurang baik? Di samping itu anak akan merasakan bahwa orang tuanya tidak merupakan satu "front". Sehingga baginya cukup banyak peluang untuk melarikan diri dari ayah dan mencari perlindungan pada ibu. Atau sebaliknya meminta pada ayah bila ibu tidak meluluskan permintaannya.

Akibat Bagi Anak

Adanya ketidakserasian antara ayah ibu di rumah akan membawa pengaruh pada perkembangan kepribadian anak. Si anak menjadi bingung, perintah atau aturan mana yang harus diikuti. Aturan ibu atau ayah? Dan kebingungannya semakin besar apabila aturan ayah dan ibu itu bertentangan satu sama lain. Oleh ayah perbuat-an si anak dilarang atau dihukum sementara ibu membela atau melindunginya. Sebagai akibatnya anak menjadi tidak tahu norma mana yang benar dan mana yang salah.

Apakah norma atau nilai-nilai hidup yang selalu ditanamkan ayahnya, yaitu harus bekerja keras, disiplin, hidup hemat, ataukah norma ibunya yang serba bebas, sekolah tidak usah terlalu tinggi, tidak usah terlalu mengejar prestasi tinggi dan sebagainya. Dalam keadaan seperti ini mungkin si anak akan memilih hal-hal yang menyenangkan atau menguntungkan dirinya. Ia akan memilih bermain-main daripada belajar yang dirasakannya sebagai beban. Sudah barang tentu terserah pada orang tua, norma mana yang akan "menang", nilai bermain-main atau nilai pentingnya belajar. Atau mungkin kompromi antara kedua nilai tersebut. Tentunya nilai-nilai yang "baik" yang diharapkan akan tertanam pada anak. Masalah akan timbul bila pertentangan nilai atau norma ayah ibu ini jadi berlarut-larut. Dalam hal ini anak akan terus bingung, tidak ada pegangan yang pasti. Padanya terjadi kekaburan norma, yang berarti ia akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial. Sebab di luar rumah ia harus mengambil keputusan sendiri dan tidak ada pelindung. Sementara norma orang tuanya yang bertentangan selalu membayanginya. Sehingga ia kadang-kadang berpegang pada norma yang ditanamkan ayahnya, kadang-kadang juga mempraktekkan norma ibunya.

Ada kemungkinan pada suatu ketika norma ibunya yang cocok, tetapi mungkin juga pada saat lain norma ayahnya yang sesuai. Namun hasil coba-coba ini kembali lagi dikacaukan di rumah oleh kontradiksi antara ayah dan ibunya. Sehingga ia tetap tidak memahami mana yang benar dan mana yang salah. Anak menjadi sangat bingung ketika melihat temannya membawa uang jajan ke sekolah dalam jumlah yang cukup banyak. Menurut ayahnya hal itu tidak baik, tetapi ibunya selalu memberinya uang jajan di luar pengetahuan ayahnya. Dengan perkataan lain si anak telah gagal untuk menilai apakah perbuatan temannya tersebut baik atau buruk. Apakah ia harus mengikuti perbuatan temannya atau tidak. Kalau ikut jajan ia takut diketahui ayahnya, dan kalau tidak toh di tangan ada uang dan kelak ibu akan melindunginya. Demikianlah ia terus bimbang dalam membawakan diri di lingkungannya. Tidak mustahil ia menjadi seorang yang mudah dipengaruhi dan terjerumus pada perbuatan yang bertentangan dengan norma yang ber-laku.

Ditinjau dari perkembangan kepribadian, anak tadi berkembang menjadi seorang anak yang labil yang tidak memiliki kepercayaan diri. Ia selalu bimbang dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan, sebab ia memang tidak dibekali pegangan yang pasti, yang dapat dijadikan landasan untuk menghadapi lingkungan sosial. Anak akan menjadi seorang yang takut-takut, tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah, selalu memerlukan bantuan atau dorongan orang lain. Ia tidak mampu mengemban pekerjaan-pekerjaan yang mempunyai tanggung jawab besar. Sukar diharapkan daripadanya suatu kompetisi, apalagi keberanian mengambil risiko.

Apa yang Harus Dilakukan?

Keserasian antara orang tua atau suami istri dalam menghadapi anak bukanlah suatu masalah yang mudah. Apalagi bila pasangan suami istri tersebut merupakan pasangan baru yang sebelumnya tidak cukup waktu un-tuk saling mengenal satu sama lain. Bukankah sering dikatakan orang bahwa selama masa pacaran atau berkencan segalanya selalu indah atau yang nampak adalah yang indah-indah saja? Oleh karena itu, pertama-tama dari kedua belah pihak harus ada kesepakatan untuk meninggalkan hal-hal atau kebiasaan-kebiasaan "buruk" demi kepentingan anak. Baik suami maupun istri harus berani mawas diri mengenai latar belakang mereka dahulu, apakah cara hidup mereka itu sudah benar? Haruskah ayah tidak menyukai anak karena anak yang lahir itu perempuan? Tepatkah untuk selalu bersikap otoriter? Benarkah saya anak yang dimanjakan orang tua? Dan sebagainya, dan sebagainya!

Langkah berikutnya adalah penyesuaian diri masing-masing dan menetapkan norma atau nilai apa yang akan ditanamkan pada anak. Dengan sendirinya hal ini tidak berlangsung seperti halnya rapat atau lokakarya. Misalnya saja dalam waktu tiga hari sudah bisa ditetapkan norma apa yang akan ditanamkan pada anak dan bagaimana cara menanamkannya. Dalam kenyataan semua ini berjalan dalam kehidupan rumah tangga itu sendiri. Sehingga ada kemungkinan tindakan atau cara-cara suami mendidik anak tidak disetujui oleh istri. Sikap tidak setuju ini jangan sekali-kali ditunjukkan di depan anak. Lebih baik kelak dikoreksi tanpa sepengetahuan anak, sehingga pada anak terkesan bahwa kedua orang tuanya sependapat. Dengan demikian sekaligus terhindar kemungkinan si anak meminta perlindungan ayah bila dimarahi ibu atau sebaliknya. Di sinilah perlunya komunikasi atau dialog antara ayah dan ibu. Suami atau istri hendaknya saling mengetahui apa yang telah dilakukan terhadap anak dan dengan pengetahuan ini sekaligus mereka dapat saling mengoreksi tindakan masing-masing. Demikianlah dialog untuk menyelaraskan nada ini merupakan suatu keharusan bagi suami istri, apalagi bila keduanya bekerja. Sebab hanya dengan dialog ini konsistensi tindakan dalam menghadapi anak dapat dipelihara.

Hal lain yang penting adalah adanya kesadaran pada suami istri untuk tidak membeda-bedakan anak dalam keluarga. Sudah barang tentu orang tua boleh saja memberikan perlakuan istimewa, misalnya bila anak berulang tahun atau naik kelas dengan angka yang baik. Namun perlakuan semacam ini pun hendaknya diberikan pada anak-anak atau saudara-saudaranya yang lain. Dengan demikian pada anak akan tertanam rasa keadilan.

Akhir kata, ibarat kapal hendaknya hanya ada satu kapten. Dengan "satu" di sini bukan dimaksud bahwa dalam rumah tangga suami adalah "kapten", namun hendaknya diartikan bahwa suami istri atau ayah ibu mempunyai satu pendirian yang sama dalam menghadapi anak.

 

Sumber: Buku Anak, Keluarga, dan Masyarakat (Sinar Harapan, 1983)


Komentar