Oleh Encep Abdullah
Jika Anda pernah berwisata
langsung ke tanah Banten dengan melihat segala bentuk fisik atau raganya,
barangkali itu sudah biasa. Lain halnya jika Anda berwisata ke tanah Banten
dengan cara membaca aksara-aksara berupa cuplikan kisah dari para penulis Banten
Suatu Ketika. Mungkin Anda pernah membaca novel Sekali Peristiwa di
Banten karya Pram, atau Max Havelaar karya Douwes
Dekker atau Multatuli. Ya, kedua karya tersebut cukup fenomenal mengangkat
lokalitas Banten, khususnya di Lebak. Siapa yang kini tak mengenal kedua
karya masterpiece tersebut?
Bila kedua masterpiece di
atas hanya fokus pada satu latar tempat, yakni Lebak, maka dalam buku antologi
ini para penulis berusaha memberikan ruang yang lebih luas lagi dengan cara
berkisah mengenai berbagai sudut budaya, makanan khas, dan tempat wisata yang
terdapat di Banten. Semisal, cerpen “Lembur Singkur” karya Ikal Hidayat Noor,
bercerita tentang lokalitas Baduy dengan cukup apik. Cerpen Ikal –dalam even
ini— menurut saya lebih layak menjadi jawara utama dibandingkan cerpen yang
lain—yang berlatar sama— semisal Cerpen “Teluh” karya Skylashtar Maryam,
bercerita tentang Samsu, seorang yang keluar dari adat karena ingin mengikuti
perkembangan zaman, lebih-lebih ingin menjadi walikota. Cerpen ini mengingatkan
saya akan seseorang yang pernah mencalonkan diri menjadi bupati Lebak, yakni H.
Kasmin. Meskipun Skylashtar tak menyinggung langsung, saya dapat menyimpulkan
cerpen ini berlatar di Baduy karena menyebut kata Puun.
Cerpen Sky tak seindah
“Lembur Singkur” Ikal Hidayat Noor. Ikal cukup telaten menggambarkan lokalitas
dibadingkan Sky. Ikal tidak hanya menyebutkan nama tempat, tetapi juga
kedalaman ide dan pengolahan data (informasi) yang ada. Pembaca diberikan
eksposisi yang cukup jelas sehingga pembaca mendapatkan pengetahuan yang lebih
banyak. Proses bercerita dari awal hingga akhir mampu memberikan impuls kepada
pembaca untuk tidak berhenti membaca sampai menemukan titik suspens
yang kilmaks.
Berbeda jauh bila
dibandingkan cerpen pembuka (dalam buku Banten Suatu Ketika ini)
yang disajikan Guntur Alam. Cerpen Guntur “Tiga Penghuni dalam Kepalaku”
sebenarnya cukup mengejutkan. Bercerita tentang tiga penghuni dalam kepala
tokoh “aku”—lelaki gagah, lelaki penakut, dan gadis cantik—yang mampu
menggerakkan sifat si tokoh “aku” menjadi bukan si “aku” yang sebenarnya.
Segala tindakannya dipengaruhi ketiga penghuni tersebut. Cerpen berlatar di
Merak ini sebenarnya cukup kuat dalam mengolah ide cerita. Penuh fantasi.
Sederhana. Tidak kecabuhan mengolah kata-kata. Namun, tetap saja saya lebih
memilih Ikal yang lebih layak jadi jawara. Saya katakan, Guntur hanya berhasil
mengolah ide. Namun, untuk lokalitas, saya tidak menemukan apa-apa. Barangkali,
bila Merak digambarkan lebih spesifik lagi—bukan hanya sebatas latar tempat—
cerpen Guntur akan tampak lebih berkilau.
Sehimpun cerpen dalam buku
ini, Merak, Anyer, Ujung Kulon, dan Baduy, merupakan tempat yang dominan
dilirik oleh para penulis untuk dijadikan setting dalam
cerpen. Juga, terdapat dua cerpen berlatar Baduy, dua cerpen berlatar Ujung
Kulon, dan dua cerpen berkisah tentang makanan rabeg.
Ujung kulon yang
diceritakan oleh Winda Az Zahra dalam “Cula Karo” cukup berhasil dibandingkan
cerpen “Kujang Meradang” karya Aksan Taqwin Embe. Aksan sangat rabu-rabu dan
babur mengolah data menjadi fiksi. Ia tak fokus pada ceritanya. Satu sisi
berbicara badak, lain sisi ia berbicara Gunung Karang, golok ciomas, dan rabeg.
Aksan juga cukup gegabah mendeskripsikan latar pandeglang, seolah-olah memaksa,
seperti berikut.
Sepahit aku yang
terbuang di belantara pandeglang dua puluh lima tahun yang lalu. Memandang ruas
jalan yang sangat terjal, sesak, jalanan berdebu, bercampur tetesan keringat
dan ludah (hlm. 115).
Pengolahan datanya kurang
valid. Tak seperti cerpen “Larva Waktu” karya Sulfiza Ariska yang
cukup pandai mengolah sejarah faktual menjadi fiksi yang imajinatif dengan
mengotak-atik kosakata Belanda.
Berbicara
lokalitas,—menyitir pandangan Melani Budianta—adalah proses pembumian yang
tidak pernah berhenti bergeser, berpindah, dan berubah. Secara struktural,
lokalitas dalam sastra kerap dimaknai sebagai wilayah, tempat, kondisi, atau
situasi dalam teks yang menggambarkan para pelaku memainkan perannya. Lokalitas
seperti mengalami pereduksian menjadi sekadar latar dalam teks yang mewartakan
tempat, situasi, suasana, dan gambaran tentang masyarakat budaya,
seperti juga yang dikatakan Irvan Hq dalam kata pengantar buku ini.
Pemaknaan lokalitas dalam
sastra tidak dapat berhenti hanya pada teks, hanya pada makna kontekstual. Di
belakangnya bertaburan kekayaan makna lain yang tidak hanya menuntut pembaca
mengisi ruang kosong yang ditinggalkan teks, melainkan juga menuntut pembaca
memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra. Dalam hal ini, tugas
pembaca adalah menelusuri, melacak, dan mencari makna di luar teks.
Berkaitan dengan itu,
cerpen “Candiru” karya Uthera Kalimaya dapat mewakili keseluruhan makna
lokalitas tersebut. Bercerita tentang lelaki paruh baya—pengurus masjid
kampung— yang alat vitalnya kemasukan ikan kecil di Sungai Cidangiang. Satu
kampung dibikin heboh. Beberapa orang mengait-kaitkan kejadian ini sebagai
kutukan Tuhan karena beberapa warga kampung pernah meninggalkan salat Jumat. Ia
fokus mengambil lokalitas sungai Cidangiang, kosakata Sunda: gerakeun
papais, jojorong, kaula mindahkeun, juga lokalitas nama tokoh, seperti Mang
Sarkim, Rumiah, Kiai Usman, Mang Sarman sebagai penguat. Selain itu, Uthera
juga memberikan ruang kepada pembaca untuk memaknai teks tersebut lebih dalam
lagi ketika ia bercerita tentang Ustad Rajak komat-kamit dalam gelas bening
berisi air (hlm. 37). Lokalitas implisit yang digambarkan Uthera sangat
impresif. Ia pandai menyembunyikan unsur budaya dalam cerpennya.
Sehimpun tulisan ini
merupakan antologi cerpen pemenang sayembara menulis cerpen 2012 yang di
selenggarakan oleh Komunitas Banten Muda. Mengusung tema “Lokalitas
Banten” dengan moto “Berkarya dan Berbagi Inspirasi” dengan dewan juri yang
memiliki kredibilitas tinggi dalam bidang sastra—Iwan Gunadi, Zen hae, dan
Yanusa Nugroho.
Secara keseluruhan,
cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki keunggulan masing-masing. Baik yang
unggul dalam pengolahan ide maupun pengolahan diksi. Yang perlu diapresiasi
adalah kehausan informasi yang dilakukan oleh para penulis akan fakta dan
sejarah yang dimiliki Banten itu sendiri. Keragaman cerpen yang disajikan dalam
buku ini cukup membanggakan meskipun tak sempurna. Menilik perkataan Irvan Hq
ada benarnya juga, ini hanyalah upaya kecil untuk memasukkan lema Banten
sebagai sebuah lokalitas yang memiliki kearifannya tersendiri ke dalam khazanah
sastra Indonesia modern. Jadi, tema Banten ini bukanlah segala-galanya. Justru
hal ini membuka ruang dari segala-galanya itu.
Akhirnya, sampailah saya
pada sebuah kesimpulan, sastra tidak hanya menyampaikan sesuatu, tetapi juga
menyumbangkan sesuatu. Buku ini sudah cukup banyak menyumbangkan “sesuatu” itu.
Lokalitas dalam sastra tidak lain adalah isyarat dan simpul makna teks yang
mempunyai kualitas untuk menghidupkan saklar imajinasi pembaca memasuki medan
tafsir yang tidak pernah selesai. Tanpa kualitas itu, lokalitas dalam sastra
akan terjerembab pada ketersesatan.

Komentar
Posting Komentar