Esai | Lokalitas Banten dalam Cerita | Radar Banten, 10 April 2015

Oleh Encep Abdullah


 

Jika Anda pernah berwisata langsung ke tanah Banten dengan melihat segala bentuk fisik atau raganya, barangkali itu sudah biasa. Lain halnya jika Anda berwisata ke tanah Banten dengan cara membaca aksara-aksara berupa cuplikan kisah dari para penulis Banten Suatu Ketika. Mungkin Anda pernah membaca novel Sekali Peristiwa di Banten karya Pramatau Max Havelaar karya Douwes Dekker atau Multatuli. Ya, kedua karya tersebut cukup fenomenal mengangkat lokalitas Banten, khususnya di Lebak. Siapa yang kini tak mengenal kedua karya masterpiece tersebut?

Bila kedua masterpiece di atas hanya fokus pada satu latar tempat, yakni Lebak, maka dalam buku antologi ini para penulis berusaha memberikan ruang yang lebih luas lagi dengan cara berkisah mengenai berbagai sudut budaya, makanan khas, dan tempat wisata yang terdapat di Banten. Semisal, cerpen “Lembur Singkur” karya Ikal Hidayat Noor, bercerita tentang lokalitas Baduy dengan cukup apik. Cerpen Ikal –dalam even ini— menurut saya lebih layak menjadi jawara utama dibandingkan cerpen yang lain—yang berlatar sama— semisal Cerpen “Teluh” karya Skylashtar Maryam, bercerita tentang Samsu, seorang yang keluar dari adat karena ingin mengikuti perkembangan zaman, lebih-lebih ingin menjadi walikota. Cerpen ini mengingatkan saya akan seseorang yang pernah mencalonkan diri menjadi bupati Lebak, yakni H. Kasmin. Meskipun Skylashtar tak menyinggung langsung, saya dapat menyimpulkan cerpen ini berlatar di Baduy karena menyebut kata Puun.

Cerpen Sky tak seindah “Lembur Singkur” Ikal Hidayat Noor. Ikal cukup telaten menggambarkan lokalitas dibadingkan Sky. Ikal tidak hanya menyebutkan nama tempat, tetapi juga kedalaman ide dan pengolahan data (informasi) yang ada. Pembaca diberikan eksposisi yang cukup jelas sehingga pembaca mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak. Proses bercerita dari awal hingga akhir mampu memberikan impuls kepada pembaca  untuk tidak berhenti membaca sampai menemukan titik suspens yang kilmaks.

Berbeda jauh bila dibandingkan cerpen pembuka (dalam buku Banten Suatu Ketika ini) yang disajikan Guntur Alam. Cerpen Guntur “Tiga Penghuni dalam Kepalaku” sebenarnya cukup mengejutkan. Bercerita tentang tiga penghuni dalam kepala tokoh “aku”—lelaki gagah, lelaki penakut, dan gadis cantik—yang mampu menggerakkan sifat si tokoh “aku” menjadi bukan si “aku” yang sebenarnya. Segala tindakannya dipengaruhi ketiga penghuni tersebut. Cerpen berlatar di Merak ini sebenarnya cukup kuat dalam mengolah ide cerita. Penuh fantasi. Sederhana. Tidak kecabuhan mengolah kata-kata. Namun, tetap saja saya lebih memilih Ikal yang lebih layak jadi jawara. Saya katakan, Guntur hanya berhasil mengolah ide. Namun, untuk lokalitas, saya tidak menemukan apa-apa. Barangkali, bila Merak digambarkan lebih spesifik lagi—bukan hanya sebatas latar tempat— cerpen Guntur akan tampak lebih berkilau.

Sehimpun cerpen dalam buku ini, Merak, Anyer, Ujung Kulon, dan Baduy, merupakan tempat yang dominan dilirik oleh para penulis untuk dijadikan setting dalam cerpen. Juga, terdapat dua cerpen berlatar Baduy, dua cerpen berlatar Ujung Kulon, dan dua cerpen berkisah tentang makanan rabeg.

Ujung kulon yang diceritakan oleh Winda Az Zahra dalam “Cula Karo” cukup berhasil dibandingkan cerpen “Kujang Meradang” karya Aksan Taqwin Embe. Aksan sangat rabu-rabu dan babur mengolah data menjadi fiksi. Ia tak fokus pada ceritanya. Satu sisi berbicara badak, lain sisi ia berbicara Gunung Karang, golok ciomas, dan rabeg. Aksan juga cukup gegabah mendeskripsikan latar pandeglang, seolah-olah memaksa, seperti berikut.

 

Sepahit aku yang terbuang di belantara pandeglang dua puluh lima tahun yang lalu. Memandang ruas jalan yang sangat terjal, sesak, jalanan berdebu, bercampur tetesan keringat dan ludah (hlm. 115).

 

Pengolahan datanya kurang valid. Tak seperti cerpen “Larva Waktu” karya Sulfiza Ariska yang cukup pandai mengolah sejarah faktual menjadi fiksi yang imajinatif dengan mengotak-atik kosakata Belanda.

Berbicara lokalitas,—menyitir pandangan Melani Budianta—adalah proses pembumian yang tidak pernah berhenti bergeser, berpindah, dan berubah. Secara struktural, lokalitas dalam sastra kerap dimaknai sebagai wilayah, tempat, kondisi, atau situasi dalam teks yang menggambarkan para pelaku memainkan perannya. Lokalitas seperti mengalami pereduksian menjadi sekadar latar dalam teks yang mewartakan tempat, situasi, suasana, dan gambaran tentang masyarakat budaya, seperti  juga yang dikatakan Irvan Hq dalam kata pengantar buku ini.

Pemaknaan lokalitas dalam sastra tidak dapat berhenti hanya pada teks, hanya pada makna kontekstual. Di belakangnya bertaburan kekayaan makna lain yang tidak hanya menuntut pembaca mengisi ruang kosong yang ditinggalkan teks, melainkan juga menuntut pembaca memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra. Dalam hal ini, tugas pembaca adalah menelusuri, melacak, dan mencari makna di luar teks.

Berkaitan dengan itu, cerpen “Candiru” karya Uthera Kalimaya dapat mewakili keseluruhan makna lokalitas tersebut. Bercerita tentang lelaki paruh baya—pengurus masjid kampung— yang alat vitalnya kemasukan ikan kecil di Sungai Cidangiang. Satu kampung dibikin heboh. Beberapa orang mengait-kaitkan kejadian ini sebagai kutukan Tuhan karena beberapa warga kampung pernah meninggalkan salat Jumat. Ia fokus mengambil lokalitas sungai Cidangiang, kosakata Sunda: gerakeun papais, jojorong, kaula mindahkeun, juga lokalitas nama tokoh, seperti Mang Sarkim, Rumiah, Kiai Usman, Mang Sarman sebagai penguat. Selain itu, Uthera juga memberikan ruang kepada pembaca untuk memaknai teks tersebut lebih dalam lagi ketika ia bercerita tentang Ustad Rajak komat-kamit dalam gelas bening berisi air (hlm. 37). Lokalitas implisit yang digambarkan Uthera sangat impresif. Ia pandai menyembunyikan unsur budaya dalam cerpennya.

Sehimpun tulisan ini merupakan antologi cerpen pemenang sayembara menulis cerpen 2012 yang di selenggarakan oleh Komunitas Banten Muda. Mengusung tema “Lokalitas Banten” dengan moto “Berkarya dan Berbagi Inspirasi” dengan dewan juri yang memiliki kredibilitas tinggi dalam bidang sastra—Iwan Gunadi, Zen hae, dan Yanusa Nugroho.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki keunggulan masing-masing. Baik yang unggul dalam pengolahan ide maupun pengolahan diksi. Yang perlu diapresiasi adalah kehausan informasi yang dilakukan oleh para penulis akan fakta dan sejarah yang dimiliki Banten itu sendiri. Keragaman cerpen yang disajikan dalam buku ini cukup membanggakan meskipun tak sempurna. Menilik perkataan Irvan Hq ada benarnya juga, ini hanyalah upaya kecil untuk memasukkan lema Banten sebagai sebuah lokalitas yang memiliki kearifannya tersendiri ke dalam khazanah sastra Indonesia modern. Jadi, tema Banten ini bukanlah segala-galanya. Justru hal ini membuka ruang dari segala-galanya itu.

Akhirnya, sampailah saya pada sebuah kesimpulan, sastra tidak hanya menyampaikan sesuatu, tetapi juga menyumbangkan sesuatu. Buku ini sudah cukup banyak menyumbangkan “sesuatu” itu. Lokalitas dalam sastra tidak lain adalah isyarat dan simpul makna teks yang mempunyai kualitas untuk menghidupkan saklar imajinasi pembaca memasuki medan tafsir yang tidak pernah selesai. Tanpa kualitas itu, lokalitas dalam sastra akan terjerembab pada ketersesatan.

 


Komentar